Kamis, 29 Oktober 2026Diterbitkan oleh FinOwi Id · Medan, Indonesia
Berita ringkas, bersumber jelas,
diperbarui setiap hari
IHSG5.282,31▲ +0,31%
LQ45539,47▼ −0,50%
USD/IDR18.184Rupiah −0,15%
Emas AntamRp2.570.000/gr▲ +Rp20.000
BrentUS$115,32▲ +1,26%
BI Rate5,75%Tetap
Penutupan Rabu, 28 Okt 2026 · Sumber: BEI, Logam Mulia, pasar spot
Pasar & Bursa

IHSG Rebound ke 5.282,31, Rupiah Malah Mepet Rekor Terendah

Oleh Redaksi SeputarBisnis · Kamis, 29 Oktober 2026 · Kategori: Bursa Saham
5.282,31IHSG · +0,31% pada 28 Oktober 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Indeks naik 16,18 poin atau 0,31 persen ke level 5.282,31, setelah sempat dibuka melemah dan menyentuh titik terendah sesi di 5.167,34. Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp15,81 triliun dengan volume 32,04 miliar saham.

Pembalikan ini dipimpin saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melonjak 7,65 persen dan menyumbang 34,15 poin ke IHSG, disusul PT Astra International Tbk (ASII) yang naik 7,99 persen. Sebaliknya, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menekan indeks setelah turun 3,27 persen. Dari sisi sektoral, kesehatan melonjak 1,71 persen dan keuangan naik 0,8 persen, sementara infrastruktur anjlok 2,13 persen dan energi turun 1,33 persen.

Sentimen Awal Sesi Masih Negatif

Analis Phintraco Sekuritas menyebut pelemahan pada sesi pertama dipicu sentimen negatif dari lonjakan harga minyak dunia, depresiasi rupiah, dan antisipasi penyeimbangan ulang (rebalancing) indeks MSCI pada November. Menurut Phintraco, peringatan MSCI soal pasar modal Indonesia mulai merembet ke pasar obligasi, karena investor global cenderung mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian. Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi di kisaran 5.150–5.350.

Meski indeks menguat, breadth pasar tetap negatif: 281 saham naik berbanding 429 saham yang turun. Artinya, rebound ini ditopang segelintir saham besar, bukan penguatan yang merata di seluruh pasar.

Rupiah Mepet Rekor, Brent Kembali Naik

Di pasar valuta asing, rupiah justru tidak ikut pulih. Mata uang Garuda melemah 0,15 persen di pasar spot ke Rp18.184 per dolar AS, mendekati rekor terendahnya sepanjang masa. Tekanan terhadap rupiah terjadi menjelang pengumuman suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan di tengah harga minyak yang bertahan tinggi.

Harga minyak mentah Brent ditutup naik US$1,44 atau sekitar 1 persen ke US$115,32 per barel pada Rabu, menurut laporan Reuters. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$2,88 atau 3 persen ke US$102,78 per barel. Penguatan minyak dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah klaim serangan terhadap kilang terbesar Arab Saudi serta berlanjutnya pertempuran di Yaman. Data pemerintah AS yang menunjukkan penurunan stok minyak 1,9 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober — berlawanan dengan perkiraan kenaikan 15.000 barel — turut menopang harga.

Apa Artinya Buat Pelaku Usaha?

Bagi pemilik usaha, kombinasi IHSG yang rebound tipis dan rupiah yang mepet rekor terendah adalah sinyal untuk waspada pada biaya. Rupiah yang lemah membuat barang impor dan bahan baku berbasis dolar makin mahal, dan itu biasanya merembet ke harga kulakan dalam beberapa pekan. Sementara minyak di atas US$115 per barel menjaga ongkos angkut tetap tinggi.

Di sisi lain, rebound yang hanya ditopang saham-saham besar — dengan lebih banyak saham turun daripada naik — menunjukkan sentimen pasar belum benar-benar pulih. Bagi usaha yang berencana mengambil pinjaman atau ekspansi, ini bukan momen untuk terburu-buru: hitung ulang margin dengan asumsi rupiah dan ongkos distribusi yang lebih berat, dan jaga arus kas tetap longgar sampai arah pasar lebih jelas.

Sumber: IDNFinancials, 28 Oktober 2026; laporan Reuters sebagaimana dilansir SRN News, 28 Oktober 2026.

Baca Juga

IHSGRupiahBBCABrentBursa Saham