Kredit Program Tembus Rp294,6 Triliun, KUR Sudah 90,1% Target
Jakarta — Penyaluran Kredit Program Pemerintah telah mencapai Rp294,6 triliun kepada 4,24 juta debitur hingga 27 Oktober 2026. Capaian itu sudah melampaui realisasi sepanjang 2025 yang sebesar Rp275,8 triliun, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu penerima manfaat utama melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang 2026, KUR telah menjangkau 4,12 juta debitur dengan total pembiayaan Rp265,9 triliun, setara 90,1 persen dari target penyaluran tahun ini. Kontribusi KUR terhadap total kredit UMKM kini mencapai 30,6 persen, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2019 yang tercatat sebesar 14,7 persen.
"Kredit program bukan sekadar kredit bersubsidi, tetapi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas nasional," ujar Airlangga Hartarto.
Lima Skema dalam Satu Kerangka
Pemerintah kini menjalankan lima skema pembiayaan yang mendukung agenda Asta Cita: KUR, Kredit Usaha Alsintan, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), Kredit Program Perumahan (KPP), dan Kredit Perempuan Prasejahtera (KPPS). Kelima skema itu diarahkan untuk mendukung swasembada pangan, memperkuat industri padat karya, menjalankan Program 3 Juta Rumah, serta meningkatkan pemberdayaan perempuan prasejahtera.
Dari sisi kualitas, pemerintah mencatat 68 persen penyaluran kredit program mengalir ke sektor produksi, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) berada pada level 2,14 persen. Secara akumulatif, penyaluran kredit program sejak 2015 telah mencapai Rp2.440 triliun melalui 58,1 juta akad. Perjalanan KUR sendiri bermula lewat skema penjaminan pada 2007, lalu berubah menjadi subsidi bunga pada 2015 sehingga suku bunga kredit turun dari 12 persen menjadi 6 persen.
Apa Artinya Buat Pelaku Usaha Kecil?
Dengan KUR sudah di 90,1 persen target, sisa kuota tahun ini tinggal sekitar sepersepuluh — hitungan redaksi dari angka yang disampaikan pemerintah, sekitar Rp29 triliun. Bagi pemilik warung, kedai, dan usaha mikro yang berencana mengajukan pembiayaan untuk stok akhir tahun, jendela ini masih terbuka, tetapi antrean di bank penyalur biasanya mengetat menjelang Desember. Siapkan sejak sekarang: usaha yang sudah berjalan, legalitas seperti NIB, dan catatan penjualan yang rapi akan mempercepat proses penilaian bank.
Dua skema lain patut dicatat. Kredit Program Perumahan ditargetkan memiliki nilai penyaluran hingga Rp50 triliun, sementara Kredit Perempuan Prasejahtera menyediakan pembiayaan maksimal Rp15 juta dengan bunga flat 8 persen, tanpa agunan tambahan, dan dilengkapi pendampingan bagi penerima. Bagi usaha keluarga yang dijalankan perempuan, skema ini bisa menjadi pintu masuk pembiayaan formal pertama sebelum naik ke KUR yang lebih besar.
Kelola usaha yang dibiayai KUR dengan rapi. OGKasir membantu mencatat penjualan, stok, dan piutang pelanggan langsung dari HP Android — 100% offline, mulai Rp8.000 bulan pertama. Lihat OGKasir →
Baca Juga
IHSG Anjlok 7,03% Sepekan, Rp721 Triliun Kapitalisasi Menguap
Pasar & Bursa · 2 November 2026
Sumut Surplus Beras 27.633 Ton, Cabai Ikut Surplus
Lokal — Medan & Sumut · 2 November 2026