IHSG Anjlok 7,03% Sepekan, Rp721 Triliun Kapitalisasi Menguap
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan terakhir Oktober 2026 dengan koreksi dalam. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), indeks melemah 41,01 poin atau 0,80 persen ke level 5.057,05, dari penutupan sebelumnya di 5.098. Dalam sepekan perdagangan 26–30 Oktober, IHSG anjlok 7,03 persen, dari 5.439,26 pada akhir pekan sebelumnya menjadi 5.057,05.
Koreksi sepekan itu menggerus nilai pasar secara besar-besaran. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut 7,52 persen, dari Rp9.583 triliun menjadi Rp8.862 triliun — setara sekitar Rp721 triliun nilai pasar yang menguap dalam lima hari perdagangan. Pada perdagangan Jumat saja, nilai transaksi tercatat Rp11,42 triliun dengan volume 36,48 miliar saham dan frekuensi 1,17 juta kali transaksi.
Jumat yang Berfluktuasi, Sektor Hampir Semua Merah
Perdagangan Jumat berjalan sangat fluktuatif. IHSG sempat menyentuh titik terendah harian di 4.979,34 sebelum memangkas pelemahan dan bertahan di atas level psikologis 5.000 hingga penutupan. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut pergerakan itu sebagai sinyal ketahanan di tengah tekanan, karena indeks sempat melemah hingga level 4.979 sebelum akhirnya berbalik ditutup di atas level psikologis 5.000.
Dari sisi sektoral, sembilan dari sebelas sektor berakhir melemah pada Jumat. Sektor transportasi mencatat koreksi terdalam sebesar 3,13 persen, disusul sektor barang baku yang turun 2,84 persen dan infrastruktur yang melemah 1,96 persen. Hanya sektor kesehatan yang menguat 0,76 persen dan sektor keuangan yang naik 0,15 persen. Investor asing membukukan penjualan bersih Rp138,71 miliar pada perdagangan Jumat, menurut data BEI.
Aturan HSC Berlaku Hari Ini, Bayang-Bayang MSCI Belum Hilang
Memasuki perdagangan Senin (2/11/2026), pasar mencermati penerapan kebijakan baru BEI: saham yang tergolong berkonsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dikecualikan dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Saham berkategori HSC tetap dapat diperdagangkan, tetapi tidak lagi masuk dalam formulasi perhitungan indeks acuan. Kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi dan kredibilitas indeks.
Di atas itu, ketidakpastian evaluasi MSCI masih membayangi. MSCI membuka konsultasi pada 15 Oktober 2026 mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan proses konsultasi yang berlangsung hingga April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut MSCI menilai langkah pencegahan dan penegakan hukum di pasar modal belum memadai, dan menuntut adanya efek jera terhadap pelanggar. Di pasar valuta asing, rupiah melemah 0,06 persen ke Rp18.147 per dolar AS pada penutupan Jumat, sementara minyak Brent melonjak 2,4 persen ke US$117,64 per barel.
Apa Artinya Buat Pelaku Usaha?
Bagi pemilik usaha, pekan merah di bursa ini bukan sekadar kabar pasar modal. Kombinasi rupiah di Rp18.147 dan Brent di US$117,64 menjaga tekanan pada dua biaya sekaligus: barang berbasis impor dan ongkos distribusi. Jika usaha Anda bergantung pada bahan baku impor atau pengiriman antarkota, ada baiknya menghitung ulang margin dengan asumsi biaya yang lebih berat, bukan dengan harga kulakan bulan lalu.
Di sisi lain, level psikologis 5.000 menjadi penanda yang dipantau analis pada awal November: bila IHSG bertahan di atasnya, pasar berpeluang bergerak sideways di kisaran 5.000–5.200, tetapi bila jebol, Phintraco memproyeksikan pengujian rentang 4.900–5.000. Pesan praktisnya sama seperti pekan-pekan sebelumnya: jaga arus kas tetap longgar, tunda belanja modal yang tidak mendesak, dan jangan mengambil keputusan ekspansi hanya karena satu hari perdagangan tampak membaik.
Baca Juga
Kredit Program Tembus Rp294,6 Triliun, KUR Sudah 90,1% Target
UMKM & Warung · 2 November 2026
Modal Ventura Masih Bidik Startup AI, Init-6 Danai Empat Startup Sepanjang 2026
Teknologi & Startup · 2 November 2026