Dari Toko Besi Jadi 15 Gerai: Kisah Agen BRILink Nilam Sari di Medan
Medan — Tidak semua jaringan usaha besar berawal dari modal besar. Nilam Sari memulainya pada 2014 dari toko besi dan pangkalan elpiji 3 kilogram miliknya di Medan. Dua belas tahun kemudian, layanan BRILink Agen yang ia rintis dari toko itu telah berkembang menjadi 15 gerai di kawasan perkebunan dan industri Sumatera Utara.
Pada awalnya, layanan yang ditawarkan sederhana: pembayaran listrik, pembelian pulsa, dan pembayaran cicilan untuk pelanggan tokonya. Kebutuhan masyarakat sekitar yang terus bertambah membuat volume transaksinya naik kelas — dari sekadar sampingan menjadi ribuan transaksi per bulan, dengan perputaran modal usaha yang meningkat berkali lipat.
Berkembang Mengikuti Perubahan Kebiasaan Warga
Salah satu pendorongnya adalah perubahan cara pekerja perkebunan menerima upah. Jika dulu upah dibayar tunai lewat mandor, kini pembayaran makin banyak lewat perbankan — dan kebutuhan tarik tunai di dekat tempat tinggal ikut melonjak. Gerai-gerai Nilam mengisi celah itu: setor dan tarik tunai, transfer, pembayaran listrik dan telepon, cicilan, isi saldo BRIZZI, sampai pencairan dana bantuan sosial.
Aktivitas di gerainya kini bisa mencapai ratusan transaksi dalam sehari. Agar bisa melayani warga yang pulang kerja sore hingga malam, gerai dibuka panjang — pukul 07.00 sampai 23.00 WIB. Jam layanan yang fleksibel ini menjadi keunggulan dibanding kantor bank: gerai tetap bisa diandalkan saat kantor belum buka, antrean bank mengular, atau ATM kehabisan uang.
Pelajaran untuk Pemilik Usaha Kecil
Kisah Nilam menunjukkan pola yang berulang pada usaha jasa keuangan berbasis agen: usaha sampingan yang menempel pada toko yang sudah ada, membaca perubahan kebiasaan pelanggan di lingkungan sendiri, lalu memperpanjang jam layanan mengikuti ritme warga. Pendampingan dari petugas BRI Medan Gatot Subroto turut menopang keberlanjutan usahanya selama bertahun-tahun.
Bagi pemilik warung dan toko kelontong di Medan dan sekitarnya, model seperti ini realistis untuk ditiru: modal awalnya adalah tempat usaha dan kepercayaan lingkungan — dua hal yang sudah dimiliki lebih dulu sebelum gerai pertama dibuka.
Toko makin ramai, catatan jangan sampai berantakan. OGKasir mencatat penjualan, stok, dan utang pelanggan dari HP Android — 100% offline, mulai Rp8.000 bulan pertama. Lihat OGKasir →
Baca Juga
KUR Tembus Rp260,8 Triliun, 4 Juta Pelaku Usaha Sudah Terjangkau
UMKM & Warung · 22 Oktober 2026
Pendanaan Fintech Asia Tenggara Meledak 206%, tapi Jumlah Deal Justru Anjlok
Teknologi & Startup · 22 Oktober 2026