Modal Ventura Masih Bidik Startup AI, Init-6 Danai Empat Startup Sepanjang 2026
Jakarta — Industri modal ventura di Indonesia masih membuka peluang pendanaan bagi perusahaan rintisan berbasis kecerdasan buatan (AI), meskipun fenomena tech winter membayangi sektor startup. Perusahaan modal ventura Init-6 Venture menjadi contohnya: sepanjang 2026, perusahaan itu telah menanamkan modal pada empat perusahaan rintisan, dengan satu di antaranya bergerak di bidang AI.
Init-6 Venture memusatkan investasinya pada perusahaan tahap awal (early stage), dengan cakupan sektor konsumen, business-to-business (B2B), dan AI. Nilai pendanaan yang disalurkan berada dalam rentang US$200.000 hingga US$2 juta untuk setiap startup. Perusahaan tidak menetapkan sasaran khusus mengenai jumlah startup yang akan menerima investasi berikutnya, dan memilih menyesuaikan keputusan dengan peluang serta mutu perusahaan yang sedang dievaluasi.
"Kami selalu optimistis, tapi semua memang faktornya banyak. Faktor utamanya justru dari makro, dari ekonomi Indonesia sendiri seperti apa," ujar Nugroho Herucahyono, Founding Partner Init-6, setelah acara Media Briefing Init-6 di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Masalahnya Bukan Investor Enggan, tapi Startup AI yang Layak Masih Langka
Menurut Nugroho, kondisi ekonomi Indonesia dan daya beli masyarakat yang masih lemah turut memengaruhi aktivitas pendanaan maupun pendirian startup: pendirian perusahaan rintisan cenderung tertahan, sehingga peluang pendanaan perlu dinilai secara cermat. Untuk sektor AI, tantangannya lebih spesifik — investor masih kesulitan menemukan perusahaan AI domestik dengan kualitas dan prospek yang sesuai kriteria investasi.
Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusputro menyampaikan nada yang sejalan: perusahaan modal ventura anggota asosiasi sangat terbuka untuk berinvestasi pada bisnis yang memanfaatkan AI guna membantu pengembangan produk dan skalabilitas. Amvesindo menilai fenomena tech winter mendorong perusahaan modal ventura menerapkan strategi wait and see, dengan kehati-hatian yang meningkat dalam menentukan penerima modal. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan modal ventura mencapai Rp16,50 triliun per Agustus 2026, tumbuh 1,05 persen secara tahunan.
Apa Artinya Buat Pelaku Usaha?
Bagi pemilik usaha kecil yang memakai teknologi — dari aplikasi kasir sampai toko online — kabar ini punya dua sisi. Sisi baiknya, investor belum menutup keran untuk teknologi yang benar-benar membantu produk dan skala usaha, termasuk AI yang dipakai untuk hal konkret seperti pencatatan, layanan pelanggan, atau efisiensi stok. Sisi kerasnya, standar pendanaan makin selektif: tanpa produk yang sudah dipakai pelanggan dan angka usaha yang jelas, pendanaan tahap awal sekalipun sulit didapat.
Pelajaran praktis dari Init-6: bangun dulu usaha yang berjalan dan terukur, baru cari modal untuk memperbesarnya — bukan sebaliknya. Bagi usaha di Medan dan Sumut yang belum tersentuh modal ventura, jalurnya tetap sama: pembiayaan formal seperti KUR dan kredit program untuk modal kerja, sementara pendanaan ventura hanya relevan bila usaha memang dirancang tumbuh cepat dengan teknologi sebagai intinya.
Baca Juga
IHSG Anjlok 7,03% Sepekan, Rp721 Triliun Kapitalisasi Menguap
Pasar & Bursa · 2 November 2026
Kredit Program Tembus Rp294,6 Triliun, KUR Sudah 90,1% Target
UMKM & Warung · 2 November 2026